Analisis Makna dalam Sistem Tanda dan Pemakaian Bahasa Indonesia

 

Analisis Makna dalam Sistem Tanda dan Pemakaian Bahasa Indonesia

Bahasa merupakan sistem tanda yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Dalam linguistik, analisis makna (semantik) dan sistem tanda (semiotika) menjadi kajian penting untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai alat penyampaian pesan. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa resmi negara, memiliki karakteristik unik dalam hal pemakaian dan pemaknaan. Makna dalam bahasa dapat dianalisis melalui berbagai pendekatan, termasuk semiotika (studi tentang tanda dan simbol) dan semantik (studi tentang makna kata dan kalimat).  

A.  Analisis Makna dalam Sistem Tanda

Sistem tanda merupakan fondasi utama dalam proses komunikasi manusia. Setiap tanda memiliki makna yang dibentuk melalui konvensi sosial, budaya, dan konteks tertentu. Analisis makna dalam sistem tanda menjadi kajian utama dalam semiotika, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda dan bagaimana tanda-tanda tersebut menghasilkan makna (Chandler, 2017). Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana makna dibentuk dalam sistem tanda, dengan merujuk pada teori-teori semiotika dari Saussure (1959), Peirce (1931-1958), dan Barthes (1964). Berikut ini penjelasan mengenai bagaimana makna dibentuk dalam sistem tanda bahasa Indonesia serta bagaimana pemakaiannya dalam konteks komunikasi sehari-hari. 

1. Teori Semiotika dan Sistem Tanda

1.1 Semiotika Ferdinand de Saussure: Signifier dan Signified

Saussure (1959) memandang tanda sebagai kesatuan antara signifier (penanda) dan signified (petanda). Penanda adalah bentuk fisik tanda, seperti bunyi atau tulisan, sedangkan petanda adalah konsep atau makna yang terkandung dalam tanda tersebut. Hubungan antara keduanya bersifat arbitrer, artinya tidak ada hubungan alamiah antara penanda dan petanda (Cobley & Jansz, 1999). Contoh:

a)   Kata "kucing" (penanda) merujuk pada konsep hewan berkaki empat yang biasa dipelihara (petanda).

b)   Warna merah pada lampu lalu lintas (penanda) berarti "berhenti" (petanda).

1.2 Semiotika Charles Sanders Peirce: Ikon, Indeks, dan Simbol

Peirce (1931-1958) mengklasifikasikan tanda menjadi tiga jenis:

a)   Ikon: Tanda yang mirip dengan objek yang diwakilinya (contoh: foto seseorang).

b)  Indeks: Tanda yang memiliki hubungan sebab-akibat dengan objeknya (contoh: asap sebagai tanda api).

c)   Simbol: Tanda yang maknanya ditentukan oleh konvensi sosial (contoh: bendera negara).

        Peirce menekankan bahwa makna tanda tidak tetap, melainkan berkembang melalui interpretasi (Atkin, 2016). Berikut ini contoh yang lain dari semiotika Saussure dan Peirce:

Rambu Lalu Lintas

Penanda (Signifiant):

Bentuk segitiga dengan latar belakang merah dan tulisan "STOP"

Lampu merah di persimpangan jalan

Petanda (Signifié):

Perintah untuk berhenti

Bahaya jika tidak mematuhi

Analisis:

Menurut Saussure: Hubungan antara bentuk rambu (penanda) dan makna "berhenti" (petanda) bersifat arbitrer (tidak alami), karena masyarakatlah yang menyepakati maknanya.

Menurut Peirce: Rambu "STOP" adalah simbol karena maknanya berdasarkan konvensi sosial. Sementara lampu merah juga bisa dianggap indeks karena merah sering dikaitkan dengan bahaya (hubungan sebab-akibat).

1.3 Semiotika Roland Barthes: Denotasi dan Konotasi

Barthes (1964) memperluas teori Saussure dengan memperkenalkan konsep denotasi (makna literal) dan konotasi (makna kultural/ideologis). Menurut Barthes, denotasi adalah apa yang dijelaskan tanda terhadap suatu objek. Sedangkan konotasi adalah penggambaranya. Contoh :

a)     Bendera Merah Putih

Denotasi:

Kain berbentuk persegi panjang dengan dua warna: merah dan putih.

Konotasi:

Nasionalisme (simbol persatuan Indonesia).

Pengorbanan (merah = darah pejuang, putih = kesucian).

 Identitas budaya (kebanggaan sebagai bangsa).

Analisis Barthes:

Makna denotatif hanya menjelaskan fisik bendera.

Makna konotatif dibangun melalui sejarah dan mitos kolektif masyarakat Indonesia.

b)  Logo Apple (gambar apel tergigit)

Denotasi:

Buah apel yang tidak utuh

Konotasi:

Kecerdasan (merujuk pada kisah Isaac Newton dan apel)

Inovasi teknologi

Kesederhanaan dan desain elegan

Analisis Barthes:

Barthes akan melihat bahwa logo Apple tidak hanya sekadar gambar apel, tetapi mengandung nilai-nilai budaya modern tentang teknologi dan kecerdasan.

 

B.  Analisis Makna dalam Pemakaian Bahasa Indonesia

Di dalam memahami makna penggunaan Bahasa Indonesia, penting untuk mengkaji berbagai faktor yang mempengaruhi penggunaannya. Salah satunya adalah bagaimana bahasa tersebut diterapkan sesuai dengan kaidah bahasa serta konteks sosial di mana bahasa itu digunakan. Misalnya, dalam konteks ruang publik seperti mal di Surabaya, penggunaan bahasa Indonesia tidak hanya bertujuan untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk memperkuat identitas budaya lokal. Sebagai contoh, di mal-mal besar di Surabaya seperti Gallaxy Mall dan Royal Plaza, signage dan pengumuman menggunakan bahasa Indonesia yang baku untuk memberikan kesan formal dan menghormati budaya Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh (Putri et al., 2023) menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap kaidah baku bahasa di ruang publik meningkatkan efektivitas komunikasi dan menciptakan kesan profesional dan modern dalam setiap interaksi. Oleh karena itu, penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah bukan hanya untuk kepentingan formalitas, tetapi juga berfungsi memperkuat jati diri bangsa dalam konteks sosial yang lebih luas.

1.   Pengaruh Bahasa Gaul pada Bahasa Indonesia:

Fenomena bahasa non-standard, seperti bahasa gaul, kini semakin populer di kalangan generasi muda Indonesia. Bahasa gaul ini sering dianggap lebih santai dan lebih dekat dengan percakapan sehari-hari dibandingkan dengan bahasa baku yang lebih formal. Bahasa gaul ini biasanya dimodifikasi dari kata-kata baku, diubah agar lebih mudah diucapkan atau lebih cepat untuk digunakan, serta diberi elemen-elemen kreatif yang mengikuti tren sosial yang sedang berkembang. Misalnya, di platform media sosial seperti TikTok, banyak pengguna yang mengubah kata-kata baku menjadi bentuk yang lebih singkat atau pengucapan yang lebih unik. Sebagai contoh, kata kepo, yang merupakan kata gaul yang sering digunakan di kalangan remaja, berasal dari bahasa Inggris keep out, yang secara harfiah berarti jauhkan atau hindari. Namun, dalam bahasa gaul, kata kepo justru digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlalu ingin tahu atau ingin mengurusi urusan orang lain. Perubahan makna ini menunjukkan bagaimana bahasa gaul berkembang mengikuti gaya hidup dan tren sosial yang ada.

Modifikasi bahasa gaul tidak hanya dipengaruhi oleh kreativitas generasi muda, tetapi juga oleh kebutuhan untuk mengikuti dan menyesuaikan diri dengan tren sosial yang berkembang pesat di media sosial. Bahasa gaul memberi kebebasan untuk berekspresi, namun kadang-kadang pemahaman makna kata bisa menjadi lebih rumit, karena kata yang sama bisa memiliki arti yang berbeda-beda di antara kelompok-kelompok berbeda. Sebagai contoh, satu kelompok remaja bisa mengartikan kata kepo sebagai bentuk rasa ingin tahu yang biasa-biasa saja, sementara kelompok lain bisa menganggapnya lebih sebagai suatu bentuk perhatian yang berlebihan. Hal ini membuat pemahaman terhadap bahasa gaul sering kali bergantung pada konteks sosial tempat kata tersebut digunakan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Fadilla et al (2023) menunjukkan bahwa bahasa gaul tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi biasa, tetapi juga sebagai cara untuk menunjukkan identitas kelompok tertentu. Di dunia maya, penggunaan bahasa gaul bisa menjadi cara untuk menunjukkan bahwa seseorang "terhubung" dengan kelompok atau komunitas tertentu yang memiliki cara bicara yang khas. Dengan menggunakan kata-kata gaul, seseorang bisa merasa lebih diterima dan diakui dalam komunitas tersebut, seperti yang terjadi di kalangan remaja di platform-platform seperti TikTok, Instagram, atau Twitter. Bahasa gaul menjadi semacam simbol atau tanda dari siapa mereka dan apa yang mereka yakini, menciptakan ikatan sosial di antara mereka yang menggunakan bahasa yang sama.

2.   Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

Afiks adalah imbuhan yang ditambahkan pada kata dasar untuk membentuk kata baru. Dalam Bahasa Indonesia, ada beberapa jenis afiks, yaitu awalan (prefiks), akhiran (sufiks), sisipan (infiks), dan gabungan keduanya (kombinasi dari prefiks dan sufiks). Afiks ini tidak hanya mempengaruhi aspek gramatikal atau struktur kalimat, tetapi juga dapat mengubah makna dari kata dasar tersebut. Penggunaan afiks sangat penting dalam pembentukan kata karena dapat memperkaya makna, memberi nuansa baru, atau menyesuaikan kata dengan konteks yang diinginkan.

2.1 Jenis-Jenis Afiks

1.     Prefiks (Awalan): Afiks yang ditempatkan di depan kata dasar. Misalnya:

·       "me-" pada kata membaca (dari kata dasar baca). Prefiks "me-" menunjukkan bahwa kata ini adalah sebuah tindakan yang sedang dilakukan.

·       "ber-" pada kata berjalan (dari kata dasar jalan), yang menunjukkan aktivitas atau keadaan.

2.     Sufiks (Akhiran): Afiks yang ditempatkan di belakang kata dasar. Misalnya:

·       "-kan" pada kata menyampaikan (dari kata dasar sampai), yang menunjukkan tindakan yang dilakukan terhadap objek tertentu.

·       "-an" pada kata penulisan (dari kata dasar tulis), yang menunjukkan hasil atau proses dari tindakan menulis.

3.     Infiks (Sisipan): Afiks yang disisipkan di tengah kata dasar. Dalam Bahasa Indonesia, infiks jarang ditemukan, tetapi contoh yang bisa diberikan adalah kata empedu (di tengah kata pedu).

4.     Kombinasi Afiks: Gabungan dari beberapa afiks. Misalnya:

·       mengerjakan (dari kata dasar kerja), menggunakan awalan "me-" dan akhiran "-kan" untuk menunjukkan tindakan yang dilakukan terhadap sesuatu.

2.2 Pengaruh Afiks dalam Struktur Kalimat dan Makna

Afiks tidak hanya memengaruhi bentuk gramatikal atau struktur kalimat, tetapi juga memperkaya makna yang ingin disampaikan. Sebagai contoh, kata membaca berasal dari kata dasar baca yang diberi awalan me- untuk menunjukkan bahwa tindakan tersebut sedang dilakukan. Dengan penambahan afiks me-, makna kata baca berubah menjadi sedang melakukan aktivitas membaca.

Dalam media daring, penggunaan afiks sering kali dimodifikasi atau disesuaikan dengan kebutuhan audiens yang lebih santai dan fleksibel (Yuniar et al., 2022). Misalnya, dalam bahasa berita daring atau platform media sosial, kita sering menemukan kata-kata seperti mengupdate yang berasal dari kata dasar update dengan awalan meN- yang menunjukkan tindakan. Kata mengupdate ini meskipun berasal dari bahasa Inggris, sudah sangat populer digunakan dalam percakapan sehari-hari, termasuk di media daring, untuk menunjukkan tindakan memperbarui informasi. Penggunaan afiks di sini juga mengikuti perkembangan tren bahasa yang lebih informal dan mudah dipahami oleh audiens muda.

2.3 Contoh Penggunaan Afiks dalam Media Daring:

1.     Mengupdate (dari kata dasar update):

·     "Tim IT sedang mengupdate sistem untuk meningkatkan keamanan."

·     Di sini, awalan meN menunjukkan bahwa tindakan update sedang dilakukan.

2.     Menyebarkan (dari kata dasar sebar):

·     "Berita tersebut segera disebarkan melalui media sosial."

·     Afiks di menunjukkan tindakan yang dilakukan oleh subjek terhadap objek tertentu.

Di dalam penggunaan afiks yang tidak tepat bisa mengubah makna kalimat atau bahkan membingungkan pembaca. Sebagai contoh, dalam kalimat Dia sedang memanusiakan diri, penggunaan awalan me- yang tidak tepat pada kata manusiakan membuat makna kalimat tersebut menjadi tidak jelas. Pada dasarnya, kata memanusiakan memang sudah benar secara tata bahasa, karena merupakan bentuk dari kata dasar manusia yang diberi awalan me- dan sufiks -kan. Dalam penggunaan yang benar, memanusiakan berarti melakukan suatu tindakan yang menjadikan seseorang atau sesuatu lebih manusiawi atau lebih sesuai dengan sifat-sifat manusiawi.

Namun, dalam konteks kalimat Dia sedang memanusiakan diri, penggunaan kata memanusiakan diri terasa aneh atau tidak tepat, karena biasanya kata memanusiakan digunakan untuk merujuk pada tindakan terhadap orang lain atau objek, bukan pada diri sendiri. Kata yang lebih tepat dalam konteks ini bisa jadi menghargai diri atau menjadi lebih manusiawi, yang lebih menggambarkan usaha seseorang untuk memperlakukan dirinya sendiri dengan cara yang lebih baik atau lebih manusiawi.

Contoh kalimat yang lebih tepat bisa berupa:

Dia sedang memperbaiki dirinya.

Dia sedang berusaha menjadi lebih manusiawi.

Jadi, meskipun secara teknis memanusiakan adalah kata yang benar, penggunaannya dalam kalimat ini menjadi kurang tepat karena konteksnya yang tidak sesuai. Kalimat tersebut menjadi membingungkan karena biasanya kita tidak memanusiakan diri sendiri dalam konteks ini, melainkan lebih kepada proses atau tindakan yang melibatkan orang lain.

2.4 Kesimpulan

Penggunaan afiks dalam Bahasa Indonesia sangat memengaruhi bagaimana kalimat disusun dan makna yang disampaikan. Afiks membantu membentuk kata-kata baru yang sesuai dengan konteks dan tujuan komunikasi, baik dalam situasi formal maupun informal. Dalam media daring, pemahaman yang tepat terhadap penggunaan afiks dapat memastikan bahwa pesan yang disampaikan mudah dipahami dan tidak menimbulkan kebingungannya. Oleh karena itu, penting bagi penulis atau pembicara untuk menggunakan afiks dengan tepat agar makna yang ingin disampaikan tetap jelas dan sesuai dengan harapan audiens.

3.   Pengaruh Media Sosial pada Penggunaan Bahasa Indonesia

Dalam era digital yang serba cepat ini, penggunaan Bahasa Indonesia di media sosial terus berkembang. Platform seperti TikTok, Instagram, dan Twitter memberikan ruang untuk penggunaan bahasa yang lebih santai dan terkadang lebih kreatif. Bahasa yang digunakan di media sosial sering kali tidak sesuai dengan bahasa formal yang diajarkan di sekolah, namun lebih fleksibel dan ekspresif. Sebagai contoh, di TikTok dan Instagram, banyak remaja yang menggunakan kata-kata yang lebih pendek, seperti baper (bawa perasaan) atau ngab (singkatan dari ngajak bro), yang tidak ditemukan dalam bahasa baku. Penggunaan kata-kata seperti ini menjadi lebih populer karena dapat lebih mudah dipahami dalam interaksi cepat di platform tersebut, serta lebih menarik dan relevan dengan audiens muda.

Selain itu, penggunaan bahasa di media sosial ini mencerminkan perubahan norma sosial yang dipengaruhi oleh generasi muda. Di satu sisi, mereka mengadaptasi bahasa sesuai dengan kebutuhan ekspresi diri, tetapi di sisi lain mereka juga membentuk identitas kolektif melalui bahasa yang digunakan. Sebagai contoh, dalam penelitian yang dilakukan oleh Siregar et al 2024) ditemukan bahwa penggunaan bahasa gaul di media sosial memiliki kecenderungan untuk mempercepat perubahan makna kata, yang tidak hanya mencerminkan perkembangan budaya digital, tetapi juga norma sosial yang berkembang di kalangan generasi muda. Misalnya, kata-kata yang dulunya tidak populer bisa mendadak menjadi viral, sementara istilah yang sering digunakan dapat cepat usang karena tren yang terus berubah.

Contoh lain dari penelitian yang relevan adalah artikel oleh Bajuri et al (2024), yang menunjukkan bagaimana penggunaan bahasa di platform seperti Instagram, Twitter, dan TikTok oleh generasi muda berfungsi sebagai bentuk resistensi terhadap norma-norma sosial yang lebih tradisional, sekaligus menciptakan gaya bahasa yang lebih inklusif dan adaptif terhadap perkembangan budaya digital. Dalam artikel ini, penulis mengamati bahwa pemilihan kata di platform-platform ini semakin mengarah pada penggunaan bahasa yang lebih santai, seringkali disertai dengan singkatan atau meme, yang mempercepat komunikasi antara pengguna.

Contoh penggunaan bahasa di platform media sosial dapat dijelaskan melalui fenomena di Instagram, Twitter, dan TikTok. Generasi muda saat ini cenderung menggunakan bahasa yang lebih santai dan tidak formal saat berinteraksi di platform-platform tersebut. Misalnya, penggunaan singkatan seperti "LOL" (Laugh Out Loud) atau meme yang berisi gambar dengan teks lucu, seringkali digunakan untuk mengekspresikan perasaan atau reaksi secara cepat. Hal ini bukan hanya sekedar bentuk ekspresi pribadi, tetapi juga menjadi simbol dari suatu kelompok atau identitas tertentu yang menentang norma bahasa yang lebih baku dan formal dalam komunikasi sehari-hari. Dengan kata lain, mereka secara tidak langsung menggunakan bahasa untuk menantang standar sosial yang lebih tradisional dan memperkenalkan gaya berkomunikasi yang lebih inklusif dan cepat beradaptasi dengan perkembangan budaya digital saat ini.

4.   Menjaga Kualitas Bahasa dalam Konteks Digital

Meskipun ada banyak perubahan dan penyimpangan dalam penggunaan Bahasa Indonesia akibat pengaruh media sosial dan perkembangan teknologi informasi, penting untuk tetap menjaga kualitas bahasa. Hal ini dikarenakan bahasa adalah alat utama untuk komunikasi yang efektif, dan menjaga kualitas bahasa dapat membantu memastikan bahwa pesan yang disampaikan tetap jelas dan mudah dipahami. Sebagai contoh, meskipun banyak kata baru muncul dalam bahasa gaul, penting untuk tidak mengabaikan kaidah bahasa baku dalam komunikasi formal. Yulianto & Nugraheni (2021) menekankan bahwa meskipun pembelajaran daring telah mengubah cara kita berinteraksi dengan bahasa, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tetap harus dijaga untuk mendukung pendidikan dan komunikasi yang efektif.

Pengaruh media sosial dan perkembangan teknologi informasi terhadap penggunaan Bahasa Indonesia memang tidak dapat disangkal. Fenomena ini membawa perubahan yang signifikan dalam cara orang berkomunikasi, terutama di kalangan generasi muda. Penggunaan bahasa yang lebih santai, sering kali disertai dengan singkatan, akronim, atau meme, menjadi hal yang umum di platform-platform seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Kata-kata baru yang sering kali muncul dalam bahasa gaul, meskipun mencerminkan kreativitas linguistik, dapat memengaruhi pemahaman dan keselarasan komunikasi, terutama ketika digunakan di luar konteks informal. Perubahan ini menciptakan tantangan dalam mempertahankan kualitas bahasa Indonesia yang baik, yang tetap penting dalam berbagai konteks komunikasi formal.

Meskipun perkembangan tersebut tidak bisa dihindari, menjaga kualitas bahasa tetap menjadi suatu keharusan dalam rangka memastikan komunikasi yang jelas dan efektif. Bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi sarana utama untuk menyampaikan pesan yang tidak hanya dapat dimengerti, tetapi juga dipahami dengan tepat oleh penerima pesan. Oleh karena itu, meskipun bahasa gaul atau gaya bahasa yang tidak baku sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari, kaidah bahasa baku harus tetap dipertahankan, terutama dalam konteks yang lebih formal seperti dalam dunia pendidikan, dunia kerja, atau dalam penulisan akademik.

Sebagai contoh, dalam komunikasi formal seperti laporan penelitian, artikel ilmiah, atau surat resmi, penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah baku adalah sangat penting. Penggunaan bahasa yang tidak baku atau terlalu santai dapat mengurangi kredibilitas komunikasi dan berisiko menyebabkan miskomunikasi. Oleh karena itu, meskipun pembelajaran daring dan teknologi telah mengubah cara kita berinteraksi dengan bahasa, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tetap harus dijaga untuk mendukung komunikasi yang efektif, akurat, dan profesional, terutama di ranah pendidikan.

Yulianto & Nugraheni (2021) dalam penelitian mereka menyatakan bahwa meskipun pembelajaran daring mengubah cara berinteraksi dengan bahasa, penting untuk tetap menjaga konsistensi dalam menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah yang berlaku. Mereka berpendapat bahwa kualitas bahasa yang baik akan memastikan bahwa informasi yang disampaikan dalam konteks akademik tetap dapat dipahami secara jelas oleh audiens yang lebih luas.

Pentingnya menjaga kualitas bahasa Indonesia yang baik dan benar ini sejalan dengan tujuan utama bahasa sebagai alat komunikasi, yakni untuk menyampaikan informasi secara efektif, sehingga meminimalisir kesalahpahaman yang dapat timbul akibat ketidakjelasan dalam penyampaian pesan. Berikut adalah contoh lain dari penggunaan bahasa gaul atau singkatan yang sering ditemukan di media sosial, tetapi harus dihindari dalam komunikasi formal di dunia pendidikan:

1.   "BTW" (By The Way)

Di media sosial, kata BTW digunakan untuk memperkenalkan informasi tambahan dalam percakapan santai. Sebagai contoh, BTW, tugasnya sudah dikumpulkan belum? Dalam konteks formal, sebaiknya digunakan bentuk lengkapnya: Ngomong-ngomong, apakah tugas tersebut sudah dikumpulkan?

1.   "FYI" (For Your Information)

Singkatan ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk memberi informasi kepada orang lain. Misalnya, FYI, pertemuan besok ditunda. Dalam konteks formal, kalimat tersebut bisa digantikan dengan: Sebagai informasi, pertemuan yang dijadwalkan besok telah ditunda.

2.   "TMI" (Too Much Information)

Istilah ini sering digunakan untuk menunjukkan bahwa informasi yang diberikan terlalu mendetail atau berlebihan, misalnya TMI, tapi aku baru saja makan burger. Dalam dunia pendidikan, kalimat seperti ini sebaiknya dihindari, dan lebih baik menggunakan ungkapan yang lebih formal sesuai konteks, seperti: Saya rasa informasi tersebut terlalu rinci untuk dibahas lebih lanjut.

3.   "GWS" (Get Well Soon)

Sering digunakan di media sosial untuk menyatakan harapan agar seseorang cepat sembuh. Dalam komunikasi formal atau dalam konteks pendidikan, kalimat ini bisa diganti dengan ucapan yang lebih sopan dan sesuai dengan kaidah bahasa, seperti: Semoga Anda segera pulih dan kembali beraktivitas dengan baik.

4.   "IDK" (I Don’t Know)

Di media sosial, singkatan ini sering digunakan untuk menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya. Contoh: IDK, mungkin besok saja kita diskusikan. Dalam komunikasi formal, penggunaan singkatan ini tidak sesuai, dan sebaiknya digunakan kalimat lengkap seperti: Saya tidak tahu, mungkin kita bisa diskusikan hal ini besok.

            Di dunia pendidikan, penting untuk menghindari penggunaan singkatan atau bahasa gaul seperti ini dalam penulisan atau komunikasi yang lebih resmi. Sebagai gantinya, bahasa yang lebih baku dan jelas harus digunakan untuk memastikan pesan yang disampaikan dipahami dengan tepat dan sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Daftar Pustaka  

Barthes, Roland. 2012. Elemen-elemen Semiologi. Yogyakarta: Jalasutra.

Fadilla, A. S., Alwansyah, Y., & Anggriawan, A. (2023). Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia Oleh Mahasiswa. EUNOIA (Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia), 3(1), 1. https://doi.org/10.30821/eunoia.v3i1.2527

Kridalaksana, H. (2008).   Kamus Linguistik   (Edisi ke-4). Gramedia Pustaka Utama. (https://www.gramedia.com/) 

Lyons, J. (1977).   Semantics   (Vol. 1). Cambridge University Press. (https://www.cambridge.org/) 

Peirce, C. S. (1931).   Collected Papers . Harvard University Press. 

Putri, A. K., Riswati, B. M., Salsabilah Rasyid, Z. A., Rahma, F. A., & Erwin, N. H. (2023). Penggunaan Bahasa Indonesia Pada Mal Di Kota Surabaya (Gallaxy Mall Dan Royal Plaza). JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan, 4(3), 196–207. https://doi.org/10.36418/syntax-imperatif.v4i3.239

Saussure, F. de. (1916). Course in General Linguistics. Open Court Publishing. (https://www.opencourtbooks.com/) 

Siregar, H., Qori Afifah, T., Ribreka, D., Osmondo Jorey, P., & Lili, T. (2024). Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia di Kalangan Gen Z. Bersatu: Jurnal Pendidikan Bhinneka Tunggal Ika, 2(3), 40–53. https://doi.org/10.51903/bersatu.v2i3.707

Yuniar, D., Sugiarti, D. H., & Maspuroh, U. (2022). Analisis Penggunaan Afiksasi pada Berita Hardnews di Media Daring Kompas.com. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 4(1), 1126–1133. https://doi.org/10.31004/edukatif.v4i1.1971

Zahrul Jihadurrohim Bajuri, M., Rahman, F., & Ilma, A. A. (2024). Perkembangan Bahasa Di Media Sosial: Dari Bahasa Gaul Hingga Singkatan Populer. Jurnal Pujangga, 10(2), 150–166. https://journal.unas.ac.id/pujangga/article/download/3910/1672

 

Komentar